Saturday, December 31, 2005

surat cinta, entah untuk siapa!

Mungkin aku harus jujur padamu, jika cinta yang tumbuh dalam batinku telah menjelma sebatang pohon. Pohon yang rimbun. Ranting-rantingnya kokoh, daunnya hijau, dan akarnya menancap di kedalaman batin. Teramat dalam.

“Lantas kenapa? Adakah yang salah jika cinta menjelma sebatang pohon?” mungkin itu yang akan kau tanyakan jika aku telah berkata jujur padamu.

Maka akan kukatakan bahwa tak ada yang salah. Hanya, ada beberapa yang harus diketahui ketika cinta telah menjelma pohon. Dulu, cinta hanya berwujud biji. Biji itu adalah cintamu. Tak ada cinta lain yang hadir saat itu. Tapi kini, ketika cinta itu menjelma sebatang pohon. Pohon itu telah dengan sendirinya membuat cabang. Cabang pertama adalah engkau, dan cabang kedua adalah dia. Ya, dia yang tiba-tiba datang dengan kesendiriannya, dengan kediamannya, dengan kesunyiannya, dengan puisi-puisinya.

Aku pun tak tahu, inikah cinta yang dihantarkan malam? Ya, sayang. Malam-malamku adalah perbincangan panjang bersamanya. Bersama resah dan gelisah, bersama sepi dan sunyi.

Cabangmu dan cabangnya telah hidup pada batang pohon itu. Sama-sama tumbuh subur. Aku tak tahu dan tak ingin tahu, siapa yang lebih subur diantara kedua cabang itu.

Engkau dan dia adalah sosok yang berbeda. Engkau dengan kayu-kayu di tangan, dengan deru suara mesin, dengan rimba-rimba dan ribuan pepohonan, dengan gergaji pemotong, dengan rindu yang tak pernah habis untukku. Sedang dia, (sekali lagi harus kukatakan) dengan kediamannya, kesendiriannya, kesunyiannya, dan puisi-puisinya telah benar-benar menjadikan engkau dan dia adalah dua hal yang berbeda yang telah benar-benar menancap dalam batinku.

Yang menjadikan kalian berdua sama adalah jarak. Jarak yang terbentang antara kita telah dengan sendirinya menciptakan perasaan lain. Engkau setia menyapaku lewat huruf-huruf, dia pun sama. Hanya menyapaku lewat huruf-huruf.

Maka kukatakan padamu malam ini, cinta telah menjelma sebatang pohon dalam batinku. Satu cabangnya adalah engkau dan cabang yang lain telah dihuni olehnya. Mungkin kejujuranku berlebihan. Tapi malam ini, aku hanya ingin mengatakan bahwa kedua cabangnya itu sama-sama rimbun.

Banjarmasin, 1 Januari 2006

Friday, December 30, 2005


makin tipis aja nich rambut...
captured by K700i

Thursday, December 29, 2005


LatSamapta PLN-SCAPA (Sukabumi 2005 a.d)
captured by K700i

Pecinta Sejati dan Pecinta Palsu

Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Para pecinta sejati hanya mengenal satu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

Itu juga yang membedakan para pecinta sejati dengan para pecinta palsu. Kalau kamu mencintai seseorang dengan tulus, ukuran ketulusan dan kesejatian cintamu adalah apa yang kamu berikan kepadanya untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik. Maka kamu adalah air. Maka kamu adalah matahari. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu.

Para pecinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. Setelah itu mereka bekerja dalam diam dan sunyi untuk mewujudkan rencana-rencana mereka. Setiap satu rencana memberi terealisasi, setiap itu satu bibit cinta muncul bersemi dalam hati orang yang dicintai. Janji menerbitkan harapan. Tapi pemberian melahirkan kepercayaan.

Bukan hanya itu. Rencana memberi yang terus terealisasi menciptakan ketergantungan. Seperti pohon tergantung dari siraman air dan cahaya matahari. Itu ketergantungan produktif. Ketergantungan yang menghidupkan. Di garis hakikat ini, cinta adalah cerita tentang seni menghidupkan hidup. Mereka menciptakan kehidupan bagi orang-orang hidup. Karena itu kehidupan yang mereka bangun seringkali tidak disadari oleh orang-orang yang menikmatinya. Tapi begitu sang pemberi pergi, mereka segera merasa kehilangan yang menyayat hati. Tiba-tiba ada ruang besar yang kosong tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang tak berpenghuni. Tiba-tiba ada kehidupan yang hilang.

Barangkali suatu saat kamu tergoda untuk menguji dirimu sendiri. Apakah kamu seorang pencinta sejati atau pencinta palsu. Caranya sederhana. Simak dulu pesan Umar bin Khattab ini: hanya ada satu dari dua perasaan yang mungkin dirasakan oleh setiap orang pada saat pasangan hidupnya wafat: merasa bebas dari beban hidup atau merasa kehilangan tempat bergantung.

Sekarang bertanyalah pada pasangan hidup Anda tanpa dia ketahui: jika aku mati sekarang, apakah kamu akan merasa bebas dari sebuah beban atau akan merasa kehilangan tempat bergantung? Kalau dia merasa kehilangan, maka di langit hatinya akan ada mendung pekat yang mungkin menurunkan hujan air mata yang amat deras. Jika tidak, mungkin senyumnya merekah sambil berharap bahwa kepergianmu akan memberinya kesempatan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Tarbawi, Edisi 95 Th.6/Syaban 1425 H/14 Oktober 2004 M, Hal 72

Ngaturaken Sedaya Kelepatan Yuwun Agunge Pangaksami, Ibu...
captured by K700i

Tuesday, December 27, 2005


Kapal Selam Tangkinya Bocor
captured by K700i

senja di kampus rumbai... Posted by Picasa

Monday, December 26, 2005

Aku Bikin Blogger...

Entah lagi kurang kerjaan atau nganggur kok tiba-tiba aku jadi kepingin bikin blogger nich. Walaupun aku sudah pernah bikin dulu...Semoga aja langgeng dan selamanya...